Ibu Tetangga dan Suaminya

Harga AC

Baru saja saya keluar dari rumah tetangga sebelah setelah membicarakan soal harga AC yang sedang didiskon besar-besaran. Ayahku pernah berkata, membicarakan hal-hal yang disukai orang yang kita ajak bicara, bukan tentang apa yang kita sukai akan menunjukkan bahwa kita adalah orang yang sopan. Ibu tetangga sebelah punya tiga orang anak yang kesemuanya telah bekerja dan hidup di luar kota. Suaminya yang sudah sama renta tak suka lagi diajak mengobrol soal isu-isu terkini dari dunia luar. Jadilah saya sebagai anak bungsu di rumah yang kakak-kakaknya sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang senang berkunjung ke sana dan menghabiskan waktu hampir seharian untuk membicarakan apapun yang sedang menjadi topik hangat.

Harga AC yang sedang dijual setengah harga oleh supermarket besar tidak jauh dari komplek rumah kami adalah topik pembicaraan seru sore tadi. Ceritanya ibu tetangga baru mendapatkan brosur yang digantungkan di pagar rumahnya dan ia terkejut karena tulisan OFF 50% begitu besar dan mencolok pada lembar pertama brosur tersebut. Kami lantas membicarakan alat elektronik apa yang perlu ada di rumah namun belum sempat terbeli. Saya memilih televisi layar datar yang memiliki perangkat suaranya sendiri sehingga saya bisa merasakan suasana bioskop meskipun menonton di rumah. Ibu tetangga hanya tertawa dan takjub pada obsesi saya sebagai penikmat film. Bagi beliau yang paling penting adalah kursi pijat yang bisa membuatnya tertidur lelap dalam sekejap. Kami lantas tertawa bersama saat saya berkata beliau harus punya dua, yang satu untuk suaminya yang juga sama-sama punya masalah tidur. Mereka kompak dalam segala hal termasuk dalam hal susah tidur di malam hari.

You may also like...